BREAKING NEWS

Sejalan Dengan DPRD, Forum LSM Ponorogo Minta Pemkab Kaji Ulang Izin Stadion Batoro Katong Untuk Konser Musik

PONOROGO II bratamedia.id – Rencana konser Josjis Fest 2026 di Stadion Batoro Katong Ponorogo pada 30 Agustus 2026 kian jadi sorotan. Forum aktivis LSM Ponorogo yang mengatasnamakan diri Forum Peduli Stadion Batoro Katong menyatakan keberatan dan mengancam menggelar aksi demonstrasi jika konser tetap dilaksanakan di stadion.

Forum tersebut terdiri dari Halil, Ketua LSM PRC, Aang Pariyanto, Ketua LSM Garda Wengker, serta Hari Bara, Ketua DPC GRIB Jaya Ponorogo.

Mereka menilai penggunaan stadion untuk konser berisiko merusak rumput yang saat ini masih dalam tahap perawatan. Terlebih, anggaran perawatan rumput stadion disebut mencapai sekitar Rp.600 juta.

“Ini tidak sebanding dengan apa yang didapat Pemkab. Hanya sewa Rp3,5 juta ditambah fee 10 persen dari penjualan tiket,” ujar Halil, diamini Aang Pariyanto dan Hari Bara.

Menurut mereka, Stadion Batoro Katong bukan sekadar fasilitas olahraga, tetapi aset publik yang sejak lama menjadi harapan masyarakat Ponorogo untuk memiliki lapangan sepak bola yang representatif.

Karena itu, mereka meminta Pemkab Ponorogo meninjau kembali kebijakan penggunaan stadion sebagai lokasi konser.

“Kita sejalan dengan apa yang disampaikan para dewan. Kami minta Pemkab mengkaji kembali izin penggunaan stadion untuk konser,” tegasnya.

Forum LSM juga meminta Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mempertimbangkan lokasi alternatif. Salah satu opsi yang mereka sebut adalah kawasan Alun-Alun Ponorogo atau tempat lain yang dinilai tidak berisiko terhadap rumput stadion.

Khawatir Perbaikan Hanya Sekadar Formalitas

Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah komitmen event organizer (EO) untuk memperbaiki kerusakan apabila konser menyebabkan kerusakan stadion.

Meski dalam RDP sebelumnya pihak EO disebut siap bertanggung jawab, Forum LSM mengaku masih meragukan kualitas pemulihan fasilitas setelah acara.

“EO memang menyatakan bertanggung jawab. Tapi kami khawatir nanti hanya menggugurkan kewajiban. Yang menjadi pertanyaan, kualitas perbaikannya seperti apa?” kata Halil.

Mereka menilai risiko tersebut seharusnya sudah diperhitungkan sejak awal oleh penyelenggara. Jika lokasi stadion dinilai paling ideal dari sisi biaya, menurut mereka, konsekuensi terhadap aset publik juga harus menjadi pertimbangan.

Forum LSM bahkan mengklaim masyarakat akan lebih menerima jika konser dipindahkan ke lokasi lain.

“Kami yakin masyarakat Ponorogo setuju jika konser tidak digelar di stadion. Jangan sampai rumput yang baru diperbaiki dengan anggaran ratusan juta justru rusak karena konser,” ujarnya.

Jika Pemkab dan penyelenggara tetap memutuskan konser digelar di Stadion Batoro Katong, Forum Peduli Stadion Batoro Katong menyatakan siap turun ke jalan.

“Kalau tetap bersikeras konser digelar di stadion, kami akan menggelar aksi demo di depan stadion,” ancamnya.

Bagi mereka, persoalan ini bukan semata soal konser, melainkan bagaimana menjaga fungsi utama stadion sebagai pusat olahraga dan aset publik Ponorogo.

“Intinya, kami bersama dewan sepakat kalau konser jangan digelar di stadion. Masih banyak lokasi lain. Monggo segera dipikirkan EO. Berani berbuat tentu harus berani mengambil risiko,” pungkas Halil.(Jaya)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar